Sabtu, 03 Oktober 2020

Bagaimana Nasib Pedagang Kuliner Baiman di Kala Pandemi Ini?


Pada tanggal 24 September lalu, Kota Banjarmasin tepat berumur 494 tahun. Usia ini tentu tidak muda lagi. Banyak yang diharapkan oleh para warga Banjarmasin agar lebih maju. Dengan bertambahnya usia kota Banjarmasin ini ada banyak perubahan yang terjadi dimana kota ini menjadi semakin lebih kompleks dan semakin beragam.

Sama halnya dengan kota lain yang memiliki visi dan misi serta moto, Kota Banjarmasin ini juga memiliki moto sendiri yaitu BAIMAN. Apa itu Baiman? Baiman merupakan singkatan dari Barasih dan Nyaman (Bersih dan Nyaman).  Dengan moto ini, kota Banjarmasin bertekad menjadi kota yang bersih dan juga nyaman untuk para warga dan orang yang berkunjung kesana.


Bahkan di Banjarmasin ada tempat khusus yang ditujukan sebagai tempat kuliner. Kuliner Baiman ini diisi oleh para pedagang yang dahulunya mereka merupakan Pedagang Kaki Lima (PKL). Mereka dipindahkan atau direlokasi ke Jalan Ahmad Yani. Awal pembukaan tempat tersebut dapat menarik banyak pengunjung dan tentu saja sangat menguntungkan para pedagang disana.


Kuliner Baiman ini adalah program pemerintah Banjarmasin sebagai inisiatif untuk menjadi sarana para pedagang untuk berjualan berbagai macam jenis kuliner dan menjadi ajang promosi kuliner Banjarmasin. Di kuliner Baiman Banjarmasin ini tentu saja menyediakan banyak makanan khas Banjarmasin seperti Soto Banjar, Nasi Kuning Banjar, Iwak Karing Sapat, dan masih banyak lainnya. Tak hanya makanan khas Banjarmasin, namun masih banyak kuliner lainnya, jajanan ringan, jajanan jaman sekarang, dan masih banyak lagi.


Namun, saat  itu pernah muncul konflik baru dimana adanya rencana dibukanya lahan baru di seberang kuliner Baiman. Hal ini tentu saja menjadi ancaman bagi para pedagang kuliner baiman karena mereka akan mendapat saingan baru.
Ditambah lagi keadaan seperti saat ini dimana merebaknya wabah virus corona (COVID-19) yang membatasi gerak mereka untuk berjualan. Hal ini jelas tentu saja menurunkan pendapatan mereka. Pengunjung pun berkurang. Dua hal tersebut sangat mengancam kelangsungan hidup para pedagang kuliner Baiman.


Wabah COVID 19  ini membuat para pedagang kuliner Baiman terancam bangkrut. Kuliner Baiman ini merupakan program pemerintah Banjarmasin dimana ditujukan untuk para pedagang yang direlokasikan. Tujuan awalnya tentu saja untuk memberikan wadah dan tempat untuk para pedagang kaki lima agar memiliki tempat yang pasti untuk berjualan. Namun semenjak adanya wabah, omset mereka sangat turun drastis.
Di awal adanya pandemi, mereka diminta untuk tidak beroperasi dan jelas tidak ada penghasilan sama sekali. Namun sejak ditetapkannya era new normal mereka sudah diperbolehkan untuk berjualan namun harus tetap memperhatikan protocol kesehatan. Meskipun begitu, jumlah pengunjung jelas sangat berkurang.


Ada banyak pedagang hampir 30 pedagang terancam bangkrut. Pendapatan mereka per hari sangat turun drastis dibandingkan sebelum adanya pandemi ini.
Lalu apa yang harus dilakukan oleh para pedagang untuk menghadapi masalah ini?
Kita tak tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Maka dari itu kita harus memikirkan cara lain agar kehidupan terus berjalan. Sama halnya dengan para pedagang kuliner Baiman. Agar jualan mereka tetap bisa laku, mereka bisa melakukan sistem delivery.

 Mereka bisa mempromosikan jualan mereka melalui social media dan memberikan jasa pesan – antar. Sistem ini terbilang cukup aman untuk kedua belah pihak dan tentu sangat menguntungkan keduanya. Pedagang untung karena jualannya laku dan pelanggan pun tidak perlu repot-repot keluar rumah untuk membeli makanan.




0 komentar:

Posting Komentar